Musim Layangan Jadi Berkah, Warga Binaan Lapas Wahai Kembangkan UMKM Kreatif
Wahai, indonesiatimur.co – Musim angin yang melintasi pesisir utara Pulau Seram membawa keceriaan tersendiri bagi warga di Desa Wahai, Kabupaten Maluku Tengah, di mana langit yang biru cerah kini dihiasi warna-warni layang-layang. Menariknya, pasokan layangan yang diterbangkan oleh anak-anak hingga remaja setempat sebagian besar merupakan karya kreatif Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai.
Bertempat di bengkel kerja Lapas, sejumlah Warga Binaan terlihat sibuk meraut bambu tipis dan merekatkan kertas minyak. Di bawah bimbingan petugas, pada Kamis (25/06/2026), mereka memproduksi belasan hingga puluhan layangan terutama layangan aduan atau gelasan yang secara tidak langsung turut mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menjelaskan kegiatan ini merupakan pembinaan kemandirian dalam bentuk keterampilan. Tujuannya adalah memberdayakan Warga Binaan agar memiliki keahlian bernilai ekonomis dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang terjangkau.
“Kami terus mendorong program yang menyentuh langsung peluang pasar di luar. Begitu melihat tren musim layangan, kami langsung fasilitasi Warga Binaan untuk produktif,” ujar Tersih.
Namun, Tersih secara tegas mengingatkan aturan main di Lapas. Ia menekankan ruang gerak Warga Binaan dalam kegiatan ini murni untuk aspek produksi dan ekonomi, bukan rekreasi personal yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban (kamtib).
”Warga Binaan disini diperbolehkan untuk memproduksi layangan sebagai bekal keterampilan dan UMKM. Namun, tidak untuk bermain layangan tanpa izin di lingkungan Lapas. Fokus kita adalah produktivitas dan pembinaan kemandirian. Aturan tetaplah aturan, situasi kamtib yang kondusif di Lapas adalah prioritas utama,” tegas Tersih.
Salah satu staf subseksi pembinaan, George Riupassa, menambahkan tingginya permintaan pasar lokal menjadi motivasi tersendiri bagi para Warga Binaan. “Ini bukti mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan produktif. Ketika musim layangan tiba, kami arahkan mereka untuk membuat kerajinan ini. Hasil penjualannya menjadi tambahan pendapatan bagi mereka sekaligus mendukung geliat produk UMKM lokal,” jelasnya.
Proses pembuatan layangan ini dikerjakan secara teliti, mulai dari pembentukan rangka bambu yang presisi, motif yang menarik berupa warna-warni bendera piala dunia, hingga penyeimbangan tali goci agar layangan dapat terbang stabil di udara. Masyarakat Wahai pun menyambut antusias kehadiran layangan hasil karya Lapas ini. Selain harganya yang ramah di kantong antara Rp7.000 hingga Rp10.000, tergantung ukuran dan kerumitan desain, layangan buatan Warga Binaan kerap dipesan secara khusus karena memiliki kualitas rangka yang lebih kokoh dibanding layangan pabrikan di toko.
“Alhamdulillah, uang yang kami peroleh dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja di koperasi Lapas,” ucap HS, salah satu Warga Binaan pembuat layangan.
“Kegiatan ini mengajarkan kami bahwa meski raga kami terkurung, namun kami tetap bisa memberikan kontribusi positif dan karya nyata untuk masyarakat diluar sana,” tambah IH, Warga Binaan lainnya.
Keberhasilan kegiatan ini menjadi bukti kuat tembok Lapas bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Program produksi layangan musiman ini sukses membekali para Warga Binaan dengan mentalitas kewirausahaan UMKM yang nyata. Diharapkan, keahlian dan jiwa mandiri ini menjadi modal berharga bagi mereka untuk kembali diterima dengan baik di tengah masyarakat setelah bebas kelak. (it-06)


